Thursday, May 23, 2013

materi pelajaran kelas X semester 2 TATA KRAMA DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI



TATA KRAMA DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

A.    PEMBELAJARAN
Standar Kompetensi
Membiasakan perilaku terpuji.

Kompetensi Dasar
  1. Menjelaskan pengertian adab dalam berpakaian, berhias, perjalanan, bertamu, dan atau menerima tamu.
  2. Menampilkan contoh-contoh adab dalam berpakaian, berhias, perjalanan, bertamu atau menerima tamu.
  3. Mempraktikkan adab dalam berpakaian, berhias, perjalanan, bertamu dan atau menerima tamu dalam kehidupan sehari-hari.


Pengalaman belajar
1.     Membaca literatur yang berkaitan dengan tata krama berpakaian dan berhias, tata krama bertamu dan menerima tamu.
2.     Mendiskusikan tata krama berpakaian dan berhias trend busana masa kini dan berbagai permasalahannya.

Materi
1.    Kebiasaan berpakaian dan berhias sesuai dengan ajaran Islam.
2.    Kebiasaan bertamu dan menerima tamu sesuai dengan ajaran Islam.

Alokasi waktu : 2 x 45 menit.


                Adab Berpakaian dan Berhias
Pada prinsipnya berpakaian berfungsi untuk menutup aurat (sebagai hijab). Hijab dalam syariat mempunyai aturan-aturan tertentu yang tidak dapat digantikan oleh oleh tradisi ('urf), yaitu, hendaklah wanita menyembunyikan (menutupi) tubuhnya selain wajahnya dan kedua telapak tangannya, dan ia tidak boleh keluar rumah dengan menampakkan perhiasannya dengan gaya berdandan seperti orang-orang Jahiliyah dahulu. Bagaimana bentuk hijab, dan bagaimana pakaian yang harus dipakai, maka hal ini kembali kepada 'urf (tradisi) dan kembali kepada wanita sendiri.
Fungsi utama pakaian ini dapat kita lihat pada QS. Al A’raf [7]: 26


 







Artinya:
“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.”
Berdasarkan ayat di atas kita bisa mengerti bahwa fungsi utama pakaian adalah sebagai penutup aurat dan penghias diri secara wajar. Yang dimaksud penghias diri adalah bahwa ketika kita memakai pakaian, maka kita akan menjadi terhormat, bila dibandingkan dengan makhluk lain yang tidak berpakaian. Penghias diri bukanlah bertujuan agar orang lain tertarik kepada kita. Menghias diri dengan berpakaian dan bertujuan untuk menarik perhatian, bahkan syahwat orang lain adalah terlarang.
Meskipun secara bentuk bisa beragam, namun pada prinsipnya dalam berbusana dan berhias harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:
    1. Menutupi seluruh badan (aurat) selain yang dikecualikan
Aurat laki-laki adalah bagian tubuh mulai dari pusar sampai dengan lutut. Sedangankan aurat perempuan adalah seluruh anggota tubuhnya, selain muka dan telapak tangan. Perhatikan QS. An Nur [24] : 31 di bawah ini!


 

























Artinya :
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

    1. Bukan sebagai perhiasan yang membangkitkan syahwat
Nabi Muhammad saw bersabda:
“Ada tida golongan yang tidak akan ditanya yaitu, seorang laki-laki yang meninggalkan jamaah kaum muslimin dan mendurhakai imamnya (penguasa) serta meninggal dalam keadaan durhaka, seorang budak wanita atau laki-laki yang melarikan diri (dari tuannya) lalu ia mati, serta seorang wanita yang ditinggal oleh suaminya, padahal suaminya telah mencukupi keperluan duniawinya, namun setelah itu ia bertabarruj. Ketiganya itu tidak akan ditanya.” (Ahmad VI/19; Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad).
Tabarruj adalah perilaku wanita yang menampakkan perhiasan dan kecantikannya serta segala sesuatu yang wajib ditutup karena dapat membangkitkan syahwat laki-laki. Tabarruj juga bisa diartikan sebagai cara berdandan orang-orang jahiliyah yang sangat berlebihan dengan maksud untuk menarik perhatian orang lain.

    1. Kainnya tidak transparan
Fungsi pakaian sebagai penutup aurat tidak akan terwujud jika kain pakaian tersebut trasparan. Jika transparan, maka hanya akan mengundang fitnah (godaan) dan berarti menampakkan perhiasan.
Dalam hal ini Rasulullah telah bersabda : “Pada akhir umatku nanti akan ada wanita-wanita yang berpakain namun (hakekatnya) telanjang. Di atas kepala mereka seperti punuk unta. Kutuklah mereka karena sebenarnya mereka adalah kaum wanita yang terkutuk.” (At-Thabrani Al-Mujamusshaghir : 232).

    1. Longgar (tidak ketat), sehingga tidak dapat menggambarkan lekuk-lekuk tubuh

    1. Tidak menyerupai pakaian laki-laki

    1. Lebih baik tidak memakai wangi-wangian jika memang bau badan tidak menimbulkan fitnah dalam pergaulan. Jika dikhawatirkan bau badan tersebut menimbulkan fitnah, maka boleh memakai wangi-wangian secukupnya, asalkan tidak berbau keras.

    1. Tidak untuk mencari popularitas
Berdasarkan hadits Ibnu Umar, Rasulullah shalallohu 'alahi wa sallam bersabda: “Barangsiapa menge nakan pakaian (libas) syuhrah di dunia, niscaya Allah mengenakan pakaian kehinaan kepadanya pada hari kiamat, kemudian membakarnya dengan api neraka.” (Abu Daud II/172).

Syuhrah adalah setiap pakaian yang dipakai atau berhias dengan tujuan untuk meraih popularitas di tengah-tengah orang banyak, baik pakaian tersebut mahal, yang dipakai oleh seseorang untuk berbangga dengan dunia dan perhiasannya, maupun pakaian yang bernilai rendah, yang dipakai oleh seseorang untuk menampakkan kezuhudannya dan dengan tujuan riya. (Asy-Syaukani: Nailul Authar II/94).
Ibnul Atsir berkata : “Syuhrah artinya terlihatnya sesuatu. Maksud dari Libas Syuhrah adalah pakaiannya terkenal di kalangan orang-orang yang mengangkat pandangannya mereka kepadanya. Ia berbangga terhadap orang lain dengan sikap angkuh dan sombong.” wallahu ‘alam.

Ketika kita berinteraksi dengan sesama manusia, maka kita harus bersikap hati-hati dalam berpakaian, baik itu pakaian yang tampaknya bagus maupun jelek. Tujuannya adalah agar kita tidak terjerumus dalam fitnah.
Akan tetapi ketika kita berinteraksi dengan Allah SWT dalam ibadah makhdhah, maka Allah dengan tegas memerintahkan kita agar kita mengenakan pakaian yang terbaik kita. Perhatikan QS.  Al A’raf [7]: 31


 









Artinya :
“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid], makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”


                Adab dalam Perjalanan
Ajaran Islam sangatlah lengkap. Tidak hanya hal-hal yang besar, hal-hal yang tampaknya kecil juga dibahasnya. Salah satunya adalah dalam hal perjalanan (safar). Ajaran ini bukan untuk mengekang umatnya dalam menjalankan aktifitas kehidupanya sehari-hari, melainkan untuk mengatur dan memberi rambu-rambu agar segala aktifitas umatnya tetap dalam bat asan fungsi kekhalifahan dan tujuan peribadatan.
Adab dalam perjalanan yang seyogyanya kita ketahui adalah sebagai berikut:
                Niat Ikhlas Semata-mata untuk Allah
Niat melakukan perjalanan untuk suatu kema’shiyatan adalah terlarang. Suatu perjalanan untuk suatu kema’shiyatan akan menggugurkan aturan-aturan Islam yang berkenaan dengan perjalanan.
Misalnya: Ketika kita dalam perjalanan, kita mendapat keringanan dari Allah berupa kebolehan menjama’ dan mengqasar, selama perjalan itu bukan untuk suatu kema’shiyatan. Perjalanan dengan tujuan kema’shiyatan menggugurkan bolehnya menjama’ dan mengqasar.

 Hendaknya perempuan bepergian dengan disertai mahramnya, apalagi jika melebihi tiga hari.
Dalam hal perjalanan perempuan ada dua pendapat yang patut kita cermati untuk diambil sebagai dasar dalam bertindak.
Pendapat pertama mewakili mereka yang melihat nash-nash hadits secara zahir/harfiyah. Dengan pendekatan itu, maka memang banyak sekali kita temukan dalil yang melarang wanita bepergian kecuali harus disertai mahramnya.

Lihatlah misalnya hadits berikut ini :
"Tidak halal bagi wanita muslim bepergian lebih dari tiga hari kecuali bersama mahramnya."

Pendapat lain menyebutkan bahwa keharaman itu tidak bersifat mutlak. Maksudnya bila fitnah terjadi di mana-mana dan keamanan tidak terjamin, barulah diharamkan. Sebaliknya, bila aman dan tidak ada fitnah, maka keharaman itu menjadi sedikit lebih longgar.
Mereka berdalil dengan sebuah hadits yang menyebutkan bahwa akan datang suatu masa di mana seorang wanita bebas aman bepergian sendirian dari kota ke kota. Lalu diistimbah hadits itu menjadi sebuah syarat dari dibolehkannya wanita bepergian tanpa mahram bila keadaan aman dan tidak adanya fitnah. Lengkapnya hadits itu adalah sebagai berikut:

Dari Ady bin Hatim ra berkata bahwa Rasulullah bertanya padanya, "Ya Adiy, pernahkah kamu melihat negeri Hirah?". Aku menjawab,"Belum, tapi aku pernah mendengarnya". Rasulullah bersabda, "Bila umurmu panjang, pasti kamu akan menyaksikan seorang wanita di dalam haudaj (tenda di atas punuk unta) bepergian dari Hirah ke ka'bah dan bertawaf tanpa merasa takut atas apapun kecuali kepada Allah saja." (HR Bukhari).

Rasanya tidak salah kalau hadits ini menjadi syarat kebolehan wanita bepergian sendirian tanpa mahram bila memang suasana aman dari fitnah dan kekacauan. Paling tidak, atas pemahaman seperti inilah barangkali para senior anda itu berhujjah, dengan pemahaman atau tidak.
 Selama dalam perjalanan, ibadah-ibadah makhdlah tetap wajib dikerjakan. Hanya saja Allah memberikan keringanan dalam mengerjakannya. Sebagai contoh:
    Shalat lima waktu tetap wajib dilakukan, namun Allah memberi keringanan dengan cara boleh dikerjakan dengan cara jama’ dan qasar.
    Allah memberri keringanan khusus dalam ibadah puasa Ramadlan bagi orang yang melakukan perjalanan (musafir). Seorang musafir boleh tidak puasa, namun wajib menggantinya di lain hari.  


                Shilaturrahim
Dari Abu Hurairah r.a, Rosulullah saw bersabda, “Ada seorang laki-laki bersilaturahim ke saudaranya yang tinggal di desa lain, maka Allah mengutus seorang malaikat untuk menemuinya. Tatkala bertemu dengan lelaki tersebut maka malaikat bertanya, “Hendak kemanakah saudara?” Lelaki tersebut menjawab, “Saya ingin bersilaturahim ke saudaraku di desa ini.” Malaikat kembali bertanya, “Apakah kamu menziarahinya karena ada sesuatu kenikmatan yang akan engkau raih?“ Lelaki tersebut menjawab, “Tidak, saya melakukan silaturahim ini semata-mata kecintaan saya terhadapnya karena Allah.” Malaikat kemudian berkata, “Sesungguhnya saya diutus Allah untuk menemui kamu untuk menyampaikan bahwa Allah mencintaimu sebagaimana kamu mencintai saudaramu karena-Nya.” (HR. Muslim).
Dalam salah satu perintah-Nya, Allah swt berfirman QS. An Nisa’ [4]:1,


 







 Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu..

Dan pada ayat lainnya Allah menguatkan, QS. Ar Ra’d [13]:21


 







“Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.”

Bahkan Rosulullah saw menandaskan bahwa hanya orang-orang yang beriman kepada Allah swt dan hari akherat yang paling gigih menerapkannya. Dari Abu Hurairah ra sesungguhnya Rosulullah saw bersabda “… barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akherat maka lakukanlah silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalil di atas merupakan landasan syar’i akan perlunya silaturahim antar anggota masyarakat bahkan perintah yang semestinya kita terapkan. Dan bila kita kembali mengkaji dan mentadaburi pedoman hidup kita (Al Qur`an dan As Sunah), maka Allah dan Rosul-Nya tidak semata memerintahkan umatnya untuk menerapkan perintahnya tanpa memberi tahu keutamaan pelaksanaannya dan ancaman meninggalkan atau memutus hubungan silaturahmi.



Keutamaan silaturahmi
Diantara keutamaan yang akan diraih oleh orang yang selalu melakukan silahturahmi:
Akan diluaskan rizkinya. Rosulullah saw bersabda, “ Barang siapa yang suka diluaskan rizki dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Bukhari, Muslim dan Abu Dawud)
Akan diperpanjang umurnya.
Akan selalu berhubungan dengan Allah swt. Dari ‘Aisyah ra berkata, Rosulullah saw bersabda, "Silaturahmi itu tergantung di `Arsy (Singgasana Allah) seraya berkata: "Barangsiapa yang menyambungku maka Allah akan menyambung hubungan dengannya, dan barangsiapa yang memutuskanku maka Allah akan memutuskan hubungan dengannya" (HR. Bukhari dan Muslim)
Akan dimasukan kedalam golongan yang beriman kepada Allah dan hari akherat. Dari Abu Hurairah ra sesunguhnya Rosulullah saw bersabda, Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akherat maka lakukanlah silaturahmi (HR. Bukharidan Muslim).

Sedangkan ancaman dan akibat yang akan didapat oleh orang yang memutus hubungan silaturahmi sbb :
Akan terputus hubungannya dengan Allah swt.
      Rosulullah saw bersabda, dan barangsiapa yang memutuskanku maka Allah akan memutuskan hubungan dengannya" (HR. Bukhari, dan Muslim).
Tidak termasuk golongan yang beriman kepada Allah swt dan hari akherat.
Akan sempit rizkinya.
Akan pendek umurnya.
Akan dilaknat oleh Allah dan dimasukan kedalam neraka jahanam.
      QS. Ar Ra’d [13] :25


 










“Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam).”

QS. Muhammad [47] :22-23








 










22. “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?”
23.” Mereka itulah orang-orang yang dila'nati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.”

Tidak masuk surga.
Dari Abu Muhammad Jubair bin Mut’im ra sesungguhnya Rosulullah saw bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang memutus hubungan silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Etika silaturahmi
Dalam melakukan silaturahmi kitapun harus memperhatikan beberapa etika silaturahmi sehingga membuahkan faidah yang baik bagi kedua belah pihak dan tidak mendzolimi teman yang kita ziarahi. Diantara etika tersebut :
Silaturahmi yang dilakukan semata-mata karena Allah swt bukan karena dunia atau tujuan lainnya. Mungkin kisah diatas merupakan gambaran nyata sebagai barometer suri tauladan.
Berpakaian yang menutup aurat
Membawa hadiah untuk saudara yang akan diziarahi. Rosulullah saw bersabada, Saling berbagi hadiahlah diantara kalian maka kalian akan saling mencintai.
Memperhatikan waktu silaturahmi. bila kita ingin bersilaturahmi maka kita harus memperhatian objek yang kita akan diziarahi, karena antar individu berbeda dalam jadwal kerja dan aktivitas. Mungkin di antara mereka ada yang bisa menerima tamu pada waktu asar namun diantara mereka tidak bias menerimanya.
Bersikap dan bertutur kata yang sopan, tidak menampilkan sikap acuh atau mencela makanan yang dihidangkan.
ماعاب رسول الله صلى الله عليه وسلم طعاما قط إن اشتهاه اكله وإن كره تركه ( الحديت )
Artinya : Rasulullah SAW tidak pernah mencela makanan, jika beliau suka dimakannya, dan jika tidak maka ditinggalkannya.

Jika menginap usahakan jangan sampai lebih dari 3 hari, jangan sampai mengganggu atau menyulitkan tuan rumah. Rasulullah SAW bersabda

ولا يحل لمسلم إن يقيم عند أخيه حتى يؤ ثمه قالوايارسول الله: وكيف يؤ ثمه؟ قال أن يقيم عنده ولآ شيئ له يقريه به ( رواه مسلم )
Artinya : Tidak halal bagi seorang muslim di rumah saudaranya ( bertamu ) yang menyebabkan dia ( tuan rumah ) berdosa. Sahabat bertanya,”Bagaimana menyebabkan berdosa?”. Nabi menjawab, “Tinggal di rumahnya padahal engkau mengetahui bahwa dia tidak memiliki apa-apa yang dihidangkannya ( H.R Muslim ).
الضياف ثلاثة أيام ( رواه البخري ومسلم )
Artinya : Bertamu itu selama 3 hari. ( H.R Bukhari dan Muslim )


3.    Adab menerima tamu.
Menerima kehadiran tamu yang datang kepada kita hendaknya dapat menunjukkan kesan yang baik kepada tamu kita, seperti pesan Rasulullah :
من كان يؤ من بالله واليوم الاخرفليكرم ضيفه ( رواه البخري ومسلم )
Artinya : Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklan memuliakan temannya ( H.R Bukhari dan Muslim ).



Tata krama dan tata cara menerima tamu :
                Waspada menjaga diri dari prasangka buruk kepada tamu. Oleh sebab itu terhadap tamu yang belum dikenal perlu kiranya ditanya identitas dan keperluannya sehingga kita bisa mensikapi sabda Rasulullah

إذا دخل الضيف على القوم دخل برزقه, وإذاخرج خرج بمغفرة ذنوبهم ( رواه الديلمى عن أنس)

Artinya : Apabila tamu telah masuk ke rumah seseorang maka dia masuk dengan membawa rizkinya, dan jika dia keluar maka dia keluar dengan membawa pengampunan bagi tuan rumah dan keluarganya ( H.R Ad Dailami dan Anas ).

Tamu yang datang dengan maksud jelek dapat kita tolak dengan baik, dan tamu yang datang dengan maksud baik dapat kita temui, kita hormati, dan kita jaga keselamatannya.
                Sopan dalam menerima, lembut dalam bertutur kata, berseri wajah kita, dan banyak memberi kesempatan kepada tamu menyampaikan maksud tujuannya.
                Menjamu tamu sesuai dengan kemampuan dan keadaan kita, serta menyediakan keperluan tamu apabila menginap.
الضيافة ثلاثة أيام فمازادفهو صدقة وكل معروف صدقة           (الحديث)
Artinya : Melayani tamu suatu keharusan selama tiga hari. Adapun selebihnya termasuk sedekah dan tiap kebaikan ( sikap perilaku baik ) itu sedekah ( Al Hadist ).

B.    TUGAS DAN PELATIHAN
Tugas individual.
1.    Tujuan utama berpakaian dalam ajaran agama Islam adalah ….
a.    untuk hiasan hidup
b.    sebagai aksesoris diri
c.    untuk menutup aurat
d.    untuk menutupi rasa malu
e.    agar terhindar dari pandangan negatif

2.    Bagian tubuh manusia yang harus ditutup disebut ….
a.    jasmaniah
b.    aurat
c.    nafsu
d.    telanjang
e.    badan
3.    Bagian tubuh wanita yang harus ditutup adalah semuanya kecuali ….
a.    telapak kaki, hidung, dan tangan
b.    muka, kaki, dan rambut
c.    telapak tangan dan kaki
d.    muka dan telapak tangan
e.    rambut, muka, dan telapak tangan.
4.      
يبني إدم خذوازينتكم عند كل مسجد ( الاعراف ٣١ )
Ayat tersebut menganjurkan kita ….
                pergi ke masjid setiap shalat wajib
                berpakaian rapi, sopan, dan baik setiap shalat
                larangan memakai perhiasan ketika ke masjid
                menjaga kesucian tempat shalat utamanya masjid
                menghormati dan menjaga keindahan masjid

5.    Menurut Q.S  Al A’raf 26, pakaian yang terbaik bagi manusia dihadapan Allah adalah ….
a.    pakaian yang menutup aurat
b.    pakaian yang mahal dan suci dari najis
c.    pakaian yang mencermikan sikap takwa kepada Allah
d.    baju takwa, sarung Atlas
e.    warna putih, menutup seluruh tubuh

6.    Bertamu mendapat bimbingan dari Rasullullah SAW, secara jelas dan rinci, sebab dalam bertamu mengandung nilai ….
a.    silaturrahmi
b.    pembagian rizki
c.    qoth’urahmi
d.    ibadah mahdhah
e.    aqidah

7.    Menurut riwayat Imam Tirmidzi bahwa silaturrahmi mempunyai akibat ….
a.    menambah banyak jumlah keluarga
b.    dapat menjadi sumber mata pencaharian
c.    menambah rasa cinta kasih dalam keluarga
d.    mengurangi usia lanjut
e.    menumbuhkan kesan famili atau keluarga yang akrab

8.    Tamu yang datang dihormati, dijaga, dan dijamu sebagai tamu dalam masa ….
a.    1 hari
b.    2 hari
c.    3 hari
d.    4 hari
e.    5 hari

9.    Menurut Rasulullah tamu yang dapat menyebabkan tuan rumah berbuat dosa adalah ….
a.    tamu yang tahu tuan rumahnya tidak mampu menjamu, dia tetap tinggal di rumah itu
b.    tamu yang datang dengan membawa sekian banyak problem rumah tangga
c.    tamu yang tinggal / bermalam lebih dari 3 malam dengan membawa bekal sendiri
d.    tamu yang datang tanpa diundang dan bermalam
e.    tamu yang tidak tahu bahwa tuan rumahnya sedang tidak berada di rumah
10.  Rasulullah memotivasi umatnya untuk menerima tamu dengan baik dan sopan dengan sabdanya bahwa ….
a.    tamu datang membawa rizki, pulang membawa pengampunan
b.    menghormati tamu wajib hukumnya
c.    tamu membutuhkan bantuan dan perlindungan
d.    bertamu dapat memperpanjang hubungan sanak famili
e.    masa bertamu hanya 3 hari, selebihnya adalah shadaqah

Jawablah pertanyaan berikut ini !

                Jelaskan cara berpakaian yang sesuai dengan Islam dan tidak sesuai dengan Islam!
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
                Apa yang dimaksud dengan لباس التقوى  pada Q.S  Al A’raf 26 ?
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
                Kemukakan manfaat berpakaian yang menutupi aurat bagi kaum wanita !
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
                Jelaskan batasan aurat bagi laki-laki dan bagi wanita !
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
                Jelaskan tata krama bertamu !
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
                Sebutkan waktu-waktu yang tidak tepat untuk bertamu :

                kepada kyai
..................................................................................................................
..................................................................................................................
..................................................................................................................
                kepada teman wanita / laki-laki
..................................................................................................................
..................................................................................................................
..................................................................................................................
                guru
..................................................................................................................
..................................................................................................................
..................................................................................................................
                pedagang
..................................................................................................................
..................................................................................................................
..................................................................................................................
                Sebutkan hal-hal yang tidak pantas dilakukan ketika menerima tamu!
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
                Tuliskan hadist yang memotivasi menghormati tamu!
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
                Bagaimana pendapat Anda tentang jilbab dan penggunaannya?
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
                Sebutkan hal-hal yang tidak patut dilakukan pada waktu berdandan, berhias diri, dan berpakaian!
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................

Tugas.
Cari dan kliping 10 gambar yang dapat dicontoh dalam berpakaian dan berpenampilan, 10 gambar yang tidak patut dicontoh pakaia